Sebelumnya saya memohon maaf, jika judul diatas kurang baik dan tidak pantas. Sebab, saya pernah mendengar bahwa kita tidak diperbolehkan berandai-andai dalam bentuk apapun. Hal tersebut akan membuat kita berangan-angan dan seringkali membuat kita lalai. Semoga sedikit coretan ini tidak membuat kita lalai. Semoga coretan ini dapat menambah daya kritis dan inovasi kita sehingga akan meningkatkan kesejahteraan kita bersama.
Coretan ini akan saya mulai dari pengalaman saya (keluh kesah saya) ketika menggunakan jasa trasportasi kereta api Bogor-Depok. Sebenarnya sudah lama sekali saya menggunakan jasa trasportasi ini, sejak tahun 2003 saya sudah menggunakan jasa kereta api ini. Karena dengannya, saya berhasil mendapatkan gelar sarjana di IPB.
Jumat, 1 April 2011. Ketika saya sudah 5 bulan tidak menggunakan jasa trasportasi ini, dan ingin sekali merasakan kembali. Namun, sore itu saya merasa kecewa sekali dengan pelayanan Jasa trasportasi ini. (padahal bukan rahasia umum, bahwa ketidaknyamanan sering kali hadir dalam jasa trasportasi ini). Entah apa dikarenakan saya lelah sekali atau memang emosi saya sedang tinggi, saya merasa perlu untuk menceloteh (mengkritik) tentang jasa trasportasi ini.
Kenapa ketidaknyamanan ini sering kali dan bahkan senantiasa berulang? sudah 8 tahun saya menggunakan jasa trasportasi ini namun tidak ada perbaikan yang sangat berarti? kenapa tidak …? kenapa tidak……? dan sebagainya?
Lontaran-lontaran pertanyaan itu dan kritik itu saya lemparkan di media sosial, dan lumayan dapat tanggapan juga. Mulai dengan gelitikan masalah kereta api ekonomi AC yang nyata-nyata diganti dengan kipas angin bukan AC, sehingga panas dalam kereta masih terasa.
Saya yakin, sudah banyak pergantian direktur dalam PT tersebut, namun sedikit kali direktur yang berani melakukan terobosan. Padahal, seperti yang pernah disampaikan oleh Prof BJ Habibi dan Prof Rhenald Kasali, bahwa Indonesia butuh Pemimpin-Pemimpin yang melakukan terobosan…. bukan pemimpin yang melakukan rutinitas…
Hal tersebutlah yang jarang diajarkan dalam kepemimpinan di Negeri ini, Pemimpin terlalu hati-hati dalam mengambil kebijakan sehingga sering kali terlihat lambat.
Departemen Perhubungan pun, entah menaruh di urutan ke berapa pelayanan prima terhadap masyarkat. Apakah diawal-awal visi atau diakhirkan, sehingga tidak ada fokus untuk senantiasa memperbaiki pelanyananya. Padahal, sebagaimana kita ketahui bahwa PT KAI Jabodetabek seperti memegang monopoli trasportasi kereta api tersebut. Sehingga sudah seharusnya menepatkan kepuasan dan kenyamanan dalam prioritas utama.
Pertanyaanya adalah, bagaimana meningkatkan kepuasan dan kenyamanan pelayanan? Sederhana saja, seperti yang dilakukan oleh sebuah perusahaan besar (saya lupa perusahaan apa). Dimana perusahaan tersebut mewajibkan dalam satu bulan pegawainya menuliskan usulan atau ide kepada perusahaan agar nilai perusahaan meningkat. Namun khusus buat PT KAI COMMUTER JABODETABEK ditambahkan juga dengan usulan para pengguna jasa tersebut. Dimana bisa dilakukan dengan menggunakan Kotak Ide atau dengan SMS Center, dimana di akhir bulan, direksi akan menilai dan mendiskusikan ide-ide terbaik bagi perusahaan dan bagi pengirimnya akan diberikan hadiah, sehingga akan meningkatakan semangat memberikan ide-ide terbaik.
Usulan tersebut, diolah, dikomunikasikan, dikoordinasikan kepada pihak-pihak yang terkait sehingga ada kolaborasi dalam peningkatan nilai perusahaan. Dan akhir output dari itu semua adalah kepuasan dan kenyamana seluruh stakeholder.
Salam Perubahan
Diskusi kami pun berlanjut, kali ini mencermati tentang kemacetan dan banjir yang ada di Kota Jakarta. Senang ataupun tidak senang dengan pernyataan tersebut tidak masalah, karena faktanya adalah seperti itu. Jakarta Macet, Jakarta Banjir.
Salah satu alternatif yang hadir dalam diskusi tersebut adalah pemindahan ibukota Indonesia (Jakarta) ke daerah lain.
Sungguh menarik apa yang dipaparkan oleh sahabat saya itu, dengan ekstreem, beliau menyatakan bahwa harga mati pemindahan ibukota untuk mengobati kemacetan. Memang cost nya amat besar, mulai dengan membangun infrastruktur secara lengkap hingga mobilisasi pegawai negeri sipil ke daerah baru, yang bukan hanya membawa pegawai itu saja tapi juga keluarganya.
Banyak keuntungan yang didapat dari pemindahan tersebut, mulai dari berkurangnya kemacetan yang akan berimbas pada berkurangnya konsumsi BBM, pemerataan ekonomi dan pembangunan, hingga pemerataan SDM dan pendidikan serta fasilitas-fasilitas lain.
Anggap saja, cost awal dijadikan sebuah investasi penghematan di masa yang akan datang dan bisa dimasukan sebagai alat pemerataan ekonomi dan pembangunannya.
Pertanyaannya sekarang adalah, seberapa kuat keinginan pemerintah untuk memutuskan atau minimal membuat penelitian terpadu terkait pemindahan Ibukata Negara.
Sebuah penggalan kata-kata yang menjadi judul diatas merupakan hasil sebuah diskusi dengan seorang rekan kuliah yang didapatkan dari profesornya. Setelah direnungi dengan seksama, ternyata penggalan kata-kata tersebut banyak benarnya juga. Atau jika boleh saya mengatakannya, “sangat tepat” untuk menggambarkan keadaan Negara kita tercinta. Ya, Negara yang sangat banyak sumber daya alamnya, namun tidak maksimal diolah. Sumber daya alam itu dengan enaknya kita jual secara mentah-mentah. Yang bukan hanya memberikan keuntungan kepada orang asing, namun juga membuat kita semakin bodah dan miskin.
Entah, entah kebijakan apa atau hal “sesuatu” apa, yang membuat kebijakan untuk memberikan dengan leluasa pengolahan sumber daya alam kita secara “bodoh” bisa diambil dan disepakati. Bukannya buruk sangka, namun sangat sulit sekali untuk dimengerti. Bahkan oleh anak SMP pun, dipastikan akan menolak kebijakan-kebijakan tersebut.
Pertanyaan selanjutnya adalah, apa yang harus kita lakukan sekarang, setelah mereka dengan sah menguasai sumber daya alam kita dan kita masih terbuai dengan kebodohan dan kemiskinan?
Jawaban yang mesti dan harus kita lakukan adalah, “sadar dan bangkit”. Pemuda-pemuda bahkan semua insan yang mengaku bagian dari Bangsa Indonesia harus sadar dengan keadaan ini, jangan tebuai oleh angan kosong dan penjajahan tersembunyi.
Bangkit, dengan cara berbuat semampu dan semaksimal mungkin dalam bidang apapun demi kejayaan Bangsa..
Salam Perubahan.
Akhir pekan ini, media massa baik cetak maupun elektronik penuh dengan berita resuffle kabinet Indonesia Bersatu Jilid II (KIB II). Apa yang tergambar dalam benak kita sebagai orang banyak? Issu perombakan kabinet tersebut lebih banyak ditiup oleh konflik dalam partai-partai koalisi kabinet SBY.
Evaluasi terhadap kinerja pemerintah atau lebih spesifiknya kinerja menteri yang notebone nya adalah pembantu presiden adalah sebuah kewajaran dan memang harus di lakukan secara berkala. Sehingga ada perbaikan dan motivasi kerja yang ada dalam kabinet tersebut. Sehingga kepuasan rakyat akan kinerja pemerintahan SBY dapat dicapai.
Namun,kali ini. Perombakan tersebut (akan) merupakan hasil pertikaian partai-partai koalisi. bukan karena evaluasi kinerja. Sehingga jika ada yang berkinerja baik namun karena partainya tidak dalam koalisi lagi, maka yang menjadi korban adalah rakyat. Rakyat menjadi korban pertikaian elit-elit politik.
Bukannya menambah kepuasan dan pelayanan terhadap rakyat, tapi malah melukai rakyat. Karena belum tentu, jika menteri yang baru yang diangkat akan berkinerja sama atau lebih baik. Dan lebih parah lagi, jika menteri baru tersebut malah rakus terhadap uang dan kekuasaan baru. sehingga akan mencaplok rakyat secara bulat-bulat. Karena saat ini, pasti yang mereka kejar adalah pencitraan sesaat untuk 2014.
Namun, kita lihat saja esok hari (5 Maret 2011). Apakah jadi perombakan kabinet karena kinerja atau karena emosi terhadap partai-partai koalisi.
Sekali lagi, perombakan kabinet untuk siapa? dan untuk kepentingan siapa?
Salam JRB
Salam Perubahan.
Hari ini, sungguh sebuah pengalaman yang sulit sekali untuk dilupakan. Baik, secara rekaman peristiwa maupun rekaman makna. Hari ini, merupakan salah sebuah momentum hidup yang tak hanya sulit dilupakan namun juga menjadi sebuah motivasi.
Hari ini, mendapatkan sebuah kisah hidup sang pejuang (minimal untuk saya). Ya, mungkin sosok beliau berharga dan penting buat saya… namun bisa jadi tidak disadari oleh orang lain.
Sanusi, tepatnya Bapak Sanusi Abdullah. Perkerjaan beliau adalah seorang tukang sapu jalan.. Berkerja, bukan hanya sekedar berkerja dengan menyapu jalan dan membersihkan jalan. Namun, beliau memaknai kerjanya dengan landasan ibadah. Sehingga semua berlandaskan ibadah dan hasilnya lebih baik…
Hari ini, sungguh sebuah pengalaman yang sulit sekali untuk dilupakan. Baik, secara rekaman peristiwa maupun rekaman makna. Hari ini, merupakan salah sebuah momentum hidup yang tak hanya sulit dilupakan namun juga menjadi sebuah motivasi.
Hari ini, mendapatkan sebuah kisah hidup sang pejuang (minimal untuk saya). Ya, mungkin sosok beliau berharga dan penting buat saya… namun bisa jadi tidak disadari oleh orang lain.
Sanusi, tepatnya Bapak Sanusi Abdullah. Perkerjaan beliau adalah seorang tukang sapu jalan.. Berkerja, bukan hanya sekedar berkerja dengan menyapu jalan dan membersihkan jalan. Namun, beliau memaknai kerjanya dengan landasan ibadah. Sehingga semua berlandaskan ibadah dan hasilnya lebih baik…
Ketika ditanya oleh seorang sahabat, terkait masa depan (perkiraan lebih masa depan tepatnya). Dengan yakin, satu hingga dua tahun lagi.. bangsa kita masih dikuasai oleh POLITIK dan UANG.
Dua hal tersebut yang akan menjadi pemegang kekuasaan di bangsa kita, jika para pemimpin saat ini tidak memiliki kemauan yang tegas dalam membongkar kasus-kasus yang akut dan memberikan hukuman yang pantas sehingga ada efek jera.
Dua hal tersebut yang akan tumbuh subur layaknya jamur di musim hujan, jika para ekonom dan politisi tidak bisa dibedakan.
Dua hal tesebut yang akan memenuhi layar televisi kita, jika para akademisi dan politisi tidak bisa dibedakan.
Dua hal tersebut yang akan memenuhi konflik di masyarakat, jika para pemuka agama berada di sebuah sisi saja (sekuler)
.:: Sepenuh Jiwa Untuk Kejayaan Alamamater dan Bangsa ::.
Salam Perubahan
Bingung dan sedikit terkejut dengan data APBD yang ditunjukan ke kami terkait dengan alokasi dana untuk kepemudaan. Sekitar 2-4% dari jumlah APBD yang dianggarkan, baik oleh Pemkot dan DPRDnya. Dari alokasi tersebut, kepemudaan jelas menjadi sesuatu hal yang sangat di kerdilkan dan tidak mendapatkan prioritas yang baik dan penting bagi pemkot dan DPRD. Kepemudaan menjadi sesuatu yang tidak ada artinya, baik sebagai kemajuan saat ini atau sebuah investasi di masa yang akan datang.
Pemuda, adalah sekelompok individu yang berusia 15-30/40 tahun (saya lupa dengan UU yang terbaru) yang sering kali digunakan sebagai wacana dan slogan saat-saat dimasa kritis dan butuh pencitraan. Wacana dan slogan pemuda digunakan saat-saat butuh pembaruan, misalkan saja saat reformasi dan kampanye (pemilu legistatif atau eksekutif). Pemuda sekali lagi hanya dijadikan sebuah alat pencapaian posisi atau jabatan.
Padahal sejatinya, menurut saya bahwa pemuda bukan saja dilihat dari umur saja, namun dilihat juga dari pikiran. Tentu saja buka pikiran yang kolot, bukan pikiran yang lama dan bukan pikiran yang terbiasa dengan zona kenyamanan. Namun pikiran-pikiran yang baru, pikiran yang berani dan pikiran yang menerobos dari kebiasaan untuk kebaikan bersama.
Dan itu semua tidak bisa didapatkan secara instan, namun perlu dibentuk. Namun sayang sekali, saat ini para orang tua sering kali membatasi para pemuda dengan alasan klasiknya.. karena mereka (orang tua) takut akan kenyamaan yang saat ini mereka nikmati. Pemuda harus bisa menerobos itu semua. Tentunya dengan dibekali ilmu yang cukup. Dan dapat dikatakan itu semua harus bisa memakai manajemen strategis yang baik agar bisa menerobos dan menggapai cita-cita bersama.
Bukan saatnya lagi pemuda diiming-iming oleh bahwa pemuda pemimpin masa depan, namun sudah saatnya menjadi pemimipin masa kini. Tentunya bukan usia yang menjadi parameter, tapi pemikiran.
Entah siapa yang berkata jujur tentnag keadaan ekonomi kita. Politisi yang satu atau politis yang satunya lagi. Yang menilai pemerintahan saat ini mempunyai raport yang bagus atau raport yang jelek.
Namun, kalau saja kita melihat realita yang terjadi di rakyat kebanyakan, mereka bukan melihat dari sisi pertumbuhan ekonomi saja… bahkan pertumbuhan ekonomi tersebut mereka kesampingkan. Lalu apa yang menjadi keresahan mereka saat ini? Yang menjadi keresahan mereka adalah ketika GAP KESEJAHTERAAN itu semakin lebar dan dalam. Ketika PEREKONOMIAN hanya berpusat hanya pada segelintir orang saja, yang notabone mereka sudah terlalu kaya.
Itu lah yang menjadi keresahan masyarakat banyak, yang sewaktu-waktu akan meledak dan akan membuat ekonomi kita menjadi terpuruk kembali.
Lalu apa yang harus kita lakukan? secara sederhana yang harus kita lakukan adalah mencoba memerikasa diri kita sendiri. Sudah sejauh mana kita bermanfaat bagi lingkungan sekitar kita, khususnya bagi pemerataan perekonomian kita. Bagaimana perhitungan zakat dan shodakoh kita dapat menjadi solusi bagi kita semua. Bagaimana tenaga dan pikiran kita menjadi penggerak perekonomian kita.
Kalau saja kita hanya senang sendiri dan bahkan tidak menghiraukan orang lain. Maka tunggulah kehancuran ekonomi kita dan bangsa ini.
Salam Perubahan
.:: Sepenuh Jiwa Untuk Kejayaan Almamater dan Bangsa ::.
Dunia Islam khususnya di Mesir pada sekitar pertengahan abad dua puluh mempunyai tokoh kharismatis yang memperjuangkan Islam melalui sebuah tradisi penegakkan Islam melalui keluarga (al-usrah). Kelompok-kelompok usroh inilah yang dikenal dengan nama gerakan ikhwanul Muslimin, Gerakan ini menekankan pada aspek penegakkan syariat Islam dengan penuh keyakinan dan keikhlasan dibandingkan pada perkembangan pemikiran Islam modern.
Hingga saat ini, perkembangan organisasi Ikhwanul Muslimin menjadi sebuah organisasi dunia yang sangat massif dalam perkebangannya. Organisasi tersebut memiliki basis kader yang amat kuat dan erat, baik dalam satu negara maupun beda negara. Bahkan di beberapa negara, organisasi ini berhasil menjelma sebagai kekuatan politik yang mempunyai basis massa yang banyak dan mengakar serta berhasil merebut hati rakyat kebanyakan. Sebagai contohnya di Indonesia yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS). PKS menjadi partai yang cukup diperhitungkan, karena menjadi pemenang ke empat dalam pemilihan umum tahun 2009, sebuah prestasi besar jika melihat umur partai tersebut.
Ketika Ikhwanul Muslimin didirikan tahun 1928, pemimpinya pada saat itu berusia dua puluh dua tahun yang bekerja sebagai seorang guru. Gerakan ini merupakan salah satu gerakan yang paling berpengaruh pada abad dua puluh yang mengarahkan kembali masyarakat Muslim ke tatanan Islam Murni. Dalam gerakannya Ikhwanul Muslimin mengubah mode intelektual elite menjadi gejala popular yang kuat pengaruhnya pada interaksi antara agama dan politik, bukan saja di Mesir, namun juga di dunia Arab dan Muslim.
Beliau adalah Imam Hasan Al-Banna merupakan pemimpin Ikhwanul Muslimin dan merupakan tokoh kharismatis yang begitu dicintai oleh pengikutnya. Cara memimpin jamaahnya bagai seorang syaikh sufi memimpin tarekatnya. Imam Hasan Al-Banna dalam segi gerakan sangat memperhatikan fungsi setiap komponen organisasi. Unit terkecil yakni usroh (keluarga) menurutnya memiliki tiga tiang. Yang pertama adalah saling kenal, yang akan menjamin persatuan. Kedua, anggota usroh harus saling memahami satu sama lain, dengan saling menasehati. Dan yang ketiga adalah memperlihatkan solidaritas dengan saling membantu. Bagi Imam Hasan Al-Banna usroh merupakan mikrokosmos masyarakat Muslim ideal, di mana sikap orang beriman terhadap satu sama lain seperti saudara, dan sama-sama berupaya meningkatkan segi religius, sosial, dan kultural kehidupan mereka.
Nama Imam “Hasan Al-Banna” selalu lekat dengan jamaah Al-Ikhwan Al-Muslimun yang sampai saat ini berdiri tegak di dunia, karena beliau adalah pendiri dan menjadi Mursyid ‘Am pertama jamaah tersebut. Sekalipun Imam Hasan Al-Banna, tidak mengenyam kehidupan lebih dari empat puluh dua tahun, namun pada masa hidupnya banyak memberikan kontribusi dan prestasi yang besar sehingga banyak terjadi lompatan sejarah terutama dalam melakukan perubahan kehidupan umat menuju Islam dan dakwah Islam yang lebih cerah, banyak perubahan-perubahan yang dicapai olehnya, apalagi saat beliau hidup kondisi umat dalam keadaan yang begitu parah dan mengenaskan, keterbelakangan, ketidakberdayaan, kebodohan umat, dan ditambah dengan penjajahan barat.
Empat puluh dua tahun kalau diukur dari perjalanan sejarah merupakan waktu yang singkat, merupakan usia yang belum bisa memberikan apa-apa, walaupun umur sejarah tidak bisa diukur berdasarkan tahun dan hari, namun dapat juga diukur dari banyaknya peristiwa yang berdampak pada perubahan kondisi, situasi dan keadaan, dan inilah yang selalu melekat pada sosok Imam Hasan Al-Banna, beliau banyak memberikan pengaruh dalam perubahan sejarah, dan beliau juga merupakan salah satu dari orang yang memberikan kontribusi melakukan perbaikan dan perubahan dalam tubuh umat. Sekalipun umur beliau relatif pendek namun beliau termasuk orang yang mampu membuat sejarah gemilang.
Setiap orang pasti memiliki faktor yang dapat dinilai mampu memberikan kontribusi dan saham dalam pembentukan karakter dan jati dirinya dan menentukan berbagai hakikat yang dipilihnya. Dan bagi pemerhati lingkungan yang di dalamnya hidup sang imam Al-Banna akan dapat menemukan awal yang baik, dan karena itu berakhir dengan baik. Seperti dalam ungkapan: “Akhir yang baik mesti diawali dengan permulaan yang baik”.
Imam Hasan al-Banna kecil (muda) hidup dibawah naungan dan lingkungan yang bersih dan suci. Dan rumah yang di dalamnya hidup sang imam juga merupakan rumah yang islami. Orang tuanya bernama syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Bann. Beliau adalah seorang imam masjid di desanya, dan seorang tukang reparasi dan penjual jam. Namun disisi lain orang tua Imam Hasan Al-Banna adalah sosok pecinta ilmu dan buku, sehingga senang menuntut ilmu dan membaca buku, dan sebagian waktunya banyak dihabiskan untuk membaca dan menulis, dan beliau juga banyak menulis kitab, diantaranya adalah “Badai’ul Musnad fi Jam’I wa Tartiibi Musnad As-Syafi’I”, “Al-Fathu Ar-Robbani fi Tartiibi Musnad Ahmad As-Syaibani”, “Bulughul Amani min Asrori Al-fathu Ar-Robbani”
Bahwa komitmen dengan Islam dan manhaj robbani (manhaj ketuhanan) sangat membutuhkan pondasi utama pada lingkungan yang menggerakkannya, agar dapat tumbuh dan besar seperti pondasi tersebut, dan jika tidak ada lingkungan yang mendukung maka akan menjadi sirna dan mati sejak awal kehidupannya. Dan Allah telah memberikan karunia besar terhadap Imam “Al-Banna” dengan lingkungan yang baik ini. Orang tuanya memberikan tarbiyah (pendidikan) sejak awal dengan baik; meumbuhkan kecintaan terhadap Islam kepada anaknya sejak dini, selalu memelihara bacaan dan hafalan Al-Qur’an, sehingga memberikan kepada pemuda tersebut waktu dan tenaga yang cerah dalam berfikir dan berdakwah, dan pada saat itu pula –yang mana pada saat itu- Islam telah tertutupi oleh kehidupan yang bebas dan politik yang rusak, tampak menjadi asing –bahkan aneh dan tidak wajar- melihat seorang pemuda yang begitu besar komitmennya terhadap ajaran Islam sampai pada masalah waktu, atau dalam menunaikan ibadah shalat dengan penuh kedisiplinan.
Sejak awal dapat kita lihat bahwa Imam Hasan Al-Banna telah menentukan jalannya dan karakter hidupnya; yaitu jalan hidup yang beliau lakoninya dalam kehidupannya secara pribadi yang unik; komitmen terhadap Islam dan manhaj robbani dan interaksinya dengan orang lain dengan baik dan sesuai dengan ajaran Islam. Baliau begitu terkesan dengan hadits Nabi dan begitu kuat berpegang teguh dengannya; yaitu hadits Nabi saw: “Jagalah lima perkara sebelum datang lima perkara.. diantaranya adalah “masa mudamu sebelum datang masa tuamu”, begitupun dengan hadits Nabi saw lainnya: “ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada saat tidak ada naungan kecuali naungannya.. diantaranya adalah “seorang pemuda yang taat beribadah kepada Allah”
Maka dari itu Imam Hasan Al-Banna kehidupannya adalah islam dan tidak ada yang lain dalam diri dan hidupnya kecuali Islam. Hal itu tampak juga dengan jelas pada beberapa lembaga atau yayasan yang sejak kecil beliau loyal kepadanya, yang kesemuanya merupakan lembaga atau yayasan Islam, seperti “Jam’iyyah As-Suluk wal Akhlak” dan“Jama’ah An-Nahyu Al-Munkar”, dan beliau juga memiliki hubungan yang erat dengan harakah sufiyah yang pada saat itu marak tersebar di berbagai pelosok daerah dan kota di Mesir.
Adapun diantara faktor lain yang membantunya komitmen di jalan kebenaran adalah karena beliau begitu banyak beribadah dan taat kepada Allah, sejak mudanya beliau sering melakukan puasa sunnah, khususnya puasa sunnah yang berhubungan dengan hari-hari besar Islam, dan lebih banyak lagi beliau melakukan puasa hari sunnah senin dan hari kamis pada setiap minggunya, karena mentauladani sunnah nabi, sebagaimana beliau juga sangat bersemangat melakukan puasa sunnah rajab dan sya’ban. Kebanyakan dari kita mungkin merasa asing dalam melakukan ketaatan seperti itu, atau merasa berat melakukannya terutama di saat kondisi zaman seperti ini. Sebagaiman usaha yang dilakukan Imam Hasan Al-Banna dalam ketaatan juga menadapatkan kesulitan, terutama disaat kondisi yang saat itu dialami; adanya gerakan missionaries, globalisasi dan penjajahan yang telah meluas dan merambah dengan cepat di tengah kehidupan masyarakat Mesir saat itu; sehingga memberikan kontribusi yang besar dalam menjauhkan umat dari Islam apalagi untuk komitmen dengan ibadah dan ketaatan.
Namun Imam Hasan Al-Banna, hidup melawan arus, beliau berada dalam semangat Islam yang tinggi, berpegang dengan ketaatan dan ibadah kepada Allah, sekalipun umat saat itu sedang diliputi arus globalisasi dan pencampakkan jati diri Islam; sehingga mengakibatkan acuhnya umat terhadap Islam dan jauhnya umat terutama para pemudanya dari kehidupan beragama, apalagi juga banyaknya bermunculan seruan dan propaganda asing terhadap dunia Islam seperti liberalisme dan komunisme serta gerakan missionaris yang mengajak untuk jauh dari Islam dan berlaku hidup modernis seperti mereka.
Sekalipun demikian Imam Hasan Al-Banna tetap berpegang teguh dan yakin dengan keislamannya bahkan merasa bangga dengannya. Dan pada saat berdiri Universitas Cairo, dan Dar El-Ulum merupakan salah satu bagian dari kuliah yang ada di dalamnya; yang di dalamnya menghadirkan ilmu-ilmu kontemporer, ditambah juga dengan ilmu-ilmu syariah dan pengetahuan tradisional yang telah masyhur di Universitas Al-Azhar sebelumnya. Dan -pada saat itu pula- Imam Al-Banna mendaftarkan diri untuk kuliah di Dar El-Ulum, walaupun beliau tidak merasa cukup dengan ilmu yang di dapat di kuliah sehingga beliau mencarinya ditempat yang lain sebagai tambahan; seperti beliau selalu hadir mengikuti majlis ilmu pimpinan syaikh Rasyid Ridha, dan beliau sangat terkesan dengan tafsirnya yang terkenal yaitu “Al-Manar”.
Namun hal tersebut tidak menghalangi dirinya mendapatkan nilai yang begitu baik dan cemerlang, sehingga beliau berhasil menamatkan kuliahnya dengan hasil yang gemilang, dan beliau merupakan angkatan pertama kuliah tersebut. Lalu setelah itu, beliau diangkat sebagai guru pada madrasah ibtidaiyah disalah satu sekolah yang terletak di propinsi Ismailiyah, yaitu pada tahun 1927, dan di kota tersebut Imam Hasan Al-Banna muda tidak hanya terpaku pada jati dirinya sebagai guru madrasah ibtidaiyah, namun beliau juga menjadi da’i kepada Allah, yang pada saat itu masjid-masjid disana kosong dari pemuda. Sehigga tidak ada anak-anak muda yang sholat di masjid namun asyik dengan minuman alkohol yang memambukkan. Maka tampaklah beliau sebagai seorang pemuda yang ahli ibadah, taat kepada Allah dan sebagai da’i kepada Allah yang mengajak umat untuk kembali pada Islam yang hanif.
Di kota Ismailiyah pula Imam Hasan Al-Banna banyak melakukan interaksi dengan lembaga-lembaga Islam dan beliau tampil sebagai da’i dengan berbagai sarana yang dimiliki dan berkeliling ke berbagai tempat dan desa. Beliau pergi sebagai da’i dan membawa kabar gembira tentang agama Islam. Beliau menyeru dan mengajak manusia yang berada tempat-tempat perkumpulan mereka, dan diatara tempat perkumpulan yang sering belaiu datangi adalah café. Disana beliau memberikan kajian keagamaan, terutama pada sore hari ini, sehingga dengan kajian yang beliau sampaikan banyak menarik perhatian sebagian besar masyarakat pengunjung cafe; sehingga menjadikan pemilik café tersebut berlomba-lomba mengundang Imam Hasan Al-Banna untuk memberikan kajian sore di café-cefe milik mereka. Dan akhirnya di kota Ismailiyah –dengan taufik dari Allah- dan dengan keberkahan akan juhud dan keikhlasannya, Imam Hasan Al-Banna mampu mengeluarkan cahaya dakwah terbesar dan memberikan pengaruh yang sangat besar hingga saat ini. Yaitu berdirinya Gerakan Al-Ikhwan Al-Muslimun yang dipimpin langsung oleh Imam Hasan Al-Banna. Padahal saat itu umur beliau masih muda sekali, baru mencapai antara tidak terlalu muda, tidak baya dan juga tidak terlalu tua. Pemuda yang ahli ibadah itulah yang telah mampu mendirikan gerakan dakwah Islam terbesar di dunia saat ini.
Sosok Imam Hasan Al-Banna memiliki banyak keistimewaan, sosok yang universal dan seimbang, pemuda aktivis, seorang khatib yang antagonis, memiliki perasaan yang lembut, dan komunikatif dengan semua orang; baik dengan orang awam, petani dan buruh. Beliau juga seorang cendekiawan yang memiliki ilmu, yang mampu berinteraksi dengan para cendekiawan lainnya. Saat berada ditengah umat manusia, banyak yang takjub kepadanya baik dari kalangan cendekiawan, hartawan, awam, petani dan buruh serta yang lainnya. Ini semua sejalan dengan dakwahnya yang didasarkan pada pembentukan umat, dakwah dan individu yang seimbang dalam berbagai sisinya.
Dan Imam Hasan Al-Banna juga sangat memiliki karakter yang mampu memberikan pengaruh pada orang yang ada disekitarnya, hal ini kembali pada pondasi yang beliau miliki yaitu kedekatan diri kepada Allah. Dan kita temukan bahwa dakwah Al-Ikhwan telah terpengaruh dengan sosok Imam Hasan Al-Banna; karakternya yang baik, ikhlas dan taat kepada Allah, yang kesemuanya bersumber pada cahaya kenabian. Sebagaimana beliau juga memiliki sosok yang mumpuni dan lemah lembut, selalu perhatian dan menolong orang-orang yang mazhlum, dan dalam sejarahnya telah banyak disaksikan bahwa usaha dan kerja al-ikhwan di berbagai tempat, daerah dan negara selalu membela hak-hak umat Islam yang terampas.
Jum’at tanggal 11 Desember 1949 M diadakan rekayasa pertemuan dengan seorang menteri, namun hingga pukul 20.00 masalah yang diagendakan belum ada kejelasan yang diharapkan dapat membantu menyelesaikan masalah ikhwan, lalu pulanglah beliau dengan mertuanya Ustadz Mansur SH dengan komitmen akan datang kembali esok harinya, namun tiba-tiba beliau dapati suasana yang sungguh lain, di jalan protokol “Quin Ramses” yang biasanya ramai dengan hiruk pikuk lalu lintas lalu lalang manusia saat itu tak sebuah mobil dan seorangpun yang lewat kecuali sebuah taxi yang menongkrong di depan gerbang pintu Dar Asy Syubban, toko-toko dan rumah-rumah makan yang berdekatan juga sudah tutup, kecurigaan semakin tinggi ketika baru akan melangkahkan kaki menuju jalan raya tiba-tiba seluruh lampu penerang jalan mati, saat itulah peluru api meluncur sebagian mengenai Imam Hasan Al-Banna dan peluru yang lain mengenai Ustadz Mansur, namun beliau masih kuat untuk naik sendiri menuju gedung Dar Asy Syubban memutar telepon untuk meminta pertolongan kepada ambulance, sungguhpun demikian Imam Hasan Al-Banna terdampar dalam rumah sakit “Qosr Aini” tak seorangpun dari perawat atau dokter yang berani menolongnya sekalipun banyak dokter muslim yang ingin merawatnya, namun kepala RS tidak mengizinkan atas perintah kerajaan. Dering telepon tak henti-hentinya untuk meyakinkan keadaan dan kematian Imam Hasan Al-Banna hingga beliau menghembuskan nafas terakhirnya dengan kepahlawanannya.
Tepat hari Sabtu malam Minggu tanggal 12 Desember 1949 beliau pulang ke Rahmatullah. Terselimutilah di hari itu langit dunia dengan kesedihan yang mendalam karena kematiannya berarti hilangnya seorang pembela kebenaran penegak keadilan di tengah-tengah kelaliman dan ummat Islam tertidur nyenyak. Yang lebih menyedihkan rezimpun tidak mengizinkan ummat Islam untuk merawat jenazahnya dan berta’ziyah ke rumah shohibul musibah. Tidak seorangpun diizinkan membawa jenazahnya menuju makam Imam Hasan Al-Banna kecuali orang tua beliau beserta seorang dan kedua saudari perempuannya.
LESSON LEARN
Kepemimpinan yang stratejik adalah kemampuan untuk mengantisipasi, memberikan inspirasi, mempertahankan fleksibilitas dan memberdayakan orang lain untuk menciptakan perubahan strateji yang diinginkan (Hitt, et el dalam Mudrajat Kuncoro, 2005: 228). Hal tersebut bisa dilakukan dengan perkataan, perbuatan nyata, maupun kemampuannya dalam mewujudkan visi yang hendak dituju di masa depan. Imam Hasan Al-Banna seorang pemimpin yang dapat mempengaruhi prilaku, pikiran dan perasaan para pengikutnya baik di dalam maupun di luar Ikhwanul Muslimin hingga saat ini.
Model kepemimpinan Imam Hasan Al-Banna merupakan komposisi yang sangat ideal dari kepemimpinan transformasional. Dari defenisi kepemimpinan trasformasional beliau adalah pemimpin yang memotivasi bawahan untuk bekerja demi tercapai sasaran organisasi yakni bagaimana membumikan Islam yang bukan saja di Mesir tapi di dunia ini. Beliau mencontohkan prilaku yang mampu menyemangati anggotanya, beliau juga mendahulukan kepentingan kelompok.
Banyak pelajaran yang dapat diambil dari kisah hidup Imam Hasan Al-Banna dalam perjuangan. Tercatat ada empat point besar karakteristik yang harus dicatat dan digarisbawahi dari Imam Hasan Al-Banna. Pertama, karakter penegak kebenaran, yakni kita senantiasa berjalan diatas rel kebenaran. Imam Hasan Al-Banna berjuang dan berjalan dalam kebenaran hakiki yakni kebenaran akan Agama Islam. Kedua, karakter visioner, yakni kita memandang ke depan, kita mempunyai insting untuk maju ke depan dan mau melihat ke masa yang akan datang. Kita tidak sekedar melihat kebelakang saja. Imam Hasan Al-Banna melihat ke masa depan, seperti apa nanti organisasi dan Agama Islam tersebut di dunia ini, tentu saja dengan tantangan yang akan dihadapi oleh Islam itu sendiri.
Karakter ketiga adalah karakter mampu menginspirasi kepada pengikutnya sehingga mampu membangkitkan semangat pengikutnya. Imam Hasan Al-Banna mampu menginspirasi yang para pengikutnya, sehingga para pengikutnya bersemangat meneruskan perjuangan beliau. Karakter keempat adalah competent dalam menjalankan organisasi maupun kemampuan pribadi. Sehingga dapat menjalankan semua tugasnya dengan baik dan dapat menjadi teladan dari pengikutnya. Imam Hasan Al-Banna sangat competent sehingga sosok beliau menjadi sosok panutan dan sangat diwaspadai oleh lawannya.
Pelajaran lain yang dapat kita ambil dari kisah hidup Imam Hasan Al-Banna yakni bahwa ternyata usia bukan patokan dalam keberhasilan menjadi pemimpin besar. Mungkin kita menilai bahwa usia yang agak tua lebih pantas memimpin dari pada usia muda. Ternyata bukan usia faktor kehebatan dalam memimpin, namun sejauhmana seseorang mempunyai karakteristik pemimpin.
Integritas dan visi misi pemimpin harus jelas sehingga para pengikutnya tidak meragukan dan dapat melihat masa depan dengan baik. Dengan terlihatnya masa depan di masa kini akan menimbulkan dan membakar semangat pengikutnya untuk berkerja lebih keras. Tentu saja integritas dan visi misi tersebut harus dibungkus pula dengan kebersihan hati sang pemimpin. Sang pemimpin harus menghilangkan atau meng’nol’kan dari hatinya sifat-sifat tercela.
Oleh karena itulah bagi kita dapat mengambil ibrah dari perjalanan Imam Hasan Al-Banna sebagai sosok pemuda yang berhimpun di dalamnya jiwa yang memiliki nilai-nilai mulia dan agung, bagaimana jiwa tersebut dapat mampu membangun generasi yang islami yang membangun peradaban baru yang tidak menyimpang dari jalan Allah dan menepati dan menunaikan amanah yang diembannya dengan optimal dan baik, sekalipun kondisi, ujian dan cobaan yang dihadapi selalu datang silih berganti.