Semua media, politikus dan (mungkin) kita akhir-akhir ini membicarakan tentang harga BBM (bahan bakar minyak…bukan blackberry messeger) yang akan naik. Isyarat dari pemerintah (dibawah kepemimpinan Pak SBY) bahwa harga BBM yang akan dijual akan menyentuh harga Rp 6.000 (enam ribu rupiah). Yang akan diumumkan awal APril 2012.

Kira-kira apa yang terjadi sebelum tanggal 1 April 2012 tersebut? ada yang tahu??? hmmm.

Ya. banyak yang terjadi. Mulai dari media massa yang ribut, politikus dan partainya, ekonom yang pro dan kontra, pejabat pemerintah vs oposisi pemerintah, rakyat (dari kelas atas sampai kelas bawah) dan harga-harga yang mencuri start (naik duluan) serta lain-lain yang terjadi. Unik kan?

Teman-teman sendiri bagaimana? mungkin ada yang menambahkan apa yang terjadi sebelum tanggal 1 april 2012, silakan komentar ya..

Saat ini, kita akan mencoba membahas terkait “Perlukah harga BBM naik?”

hmmm? saya yakin banyak yang bilang ga perlu naik… iya kan???

sebenarnya harga BBM boleh aja naik, tapi bukan sekarang waktunya? (kenapa?) Karena saat ini kondisi ekonomi bangsa kita tersayang belum siap… Ekonomi kita masih banyak tersandra oleh harga BBM, harga-harga barang dan jasa dipasaran masih dipengaruhi oleh BBM. Ga percaya? coba kita liat aja, cabe itu dibawa dari petani di sukabumi ke pasar induk pake kendaraan yang menggunakan Bensin/solar. Kalau bensin naik harganya, maka naik juga ongkos trasportasi..dan akhirnya nambahin harga cabe dipasar… dan begitu pula yang lainnya…

Terus kalau ga naik harga BBM maka APBN kita jebol dong…defisit… hutang deh…?

itu merupakan masalah yang dilontarkan oleh pemerintah, namun menurut pandangan saya, kurang elok kalau pemerintah beralasan APBN kita jebol dari ga berhasilnya naikin harga BBM. Coba aja kita cek Penerimaan pajak… Realisasi penerimaan pajak kita semua selama tiga tahun belum 100% mencapai target. Tidak sampainya pajak ke kas negara (masuk ke kas Pribadi). Tidak jujurnya penagih pajak dan wajib pajak (he,,,he). Jika ini berjalan dengan baik, maka akan ada tambahan yang masuk.. mungkin sekitar 20T.

Kedua, stop pemborosan birokrasi… Tunda pembelian pesawat presiden. Tunda pembangunan gedung-gedung birokrasi. Penghematan biaya operasional birokrasi (tour ke luar negeri dll bagi birokrasi). Stop beli mobil mewah para menteri dan sekelasnya. dll. mungkin bisa hemat 25T.

Ketiga, dengan naiknya harga minyak dunia, maka kita akan dapat uang masuk. Anggap harga minyak mencapai 105dollar/barrel. maka kita akan terima duit sekitar 35T.

dan lain-lain yang bisa menghemat…. (potong gaji presiden, menteri dan anggota DPR, he,,,,he).

Bukankah akan jadi bom waktu dimasa depan?

benar banget, maka oleh sebab itu (#apaseh). perlu adanya program konversi BBM ke yang lain. perlu adanya kebijakan konversi!! (sama kaya konversi minyak tanah ke gas). Pernah denger mobil dengan bahan bakar gas? nah itu dia yang perlu dikaji… Kalau secara kebijakan, bikin kebijakan di produsen mobil untuk mobil tahun keluaran 2012 keatas tidak bisa menggunakan BMM Premium tapi pake BBM Pratamax yang harganya ga disusbsidi.

Sebar perekonomian secara merata di Indonesia, jangan hanya di Jakarta aja. Silakan di cek, berapa Triliun per bulan yang terbuang gara-gara kemacetan?

Kira-kira mau ga ya pemerintah bikin kebijakan ke produsen mobil tersebut?

tergantung. kalau pemerintah berani dan belum ada DP yang diterima dari produsen mobil, pasti bisa. Intinya ada political will dari pemerintah. Sebab, penurunan penjualan mobil akan terjadi kalau kebijakan ini terjadi.

Kalau semua sudah berkurang ketergantungan kita terhadap harga BBM, maka silakan harga BBM sesuai harga pasar.

Sebelumnya saya memohon maaf, jika judul diatas kurang baik dan tidak pantas. Sebab, saya pernah mendengar bahwa kita tidak diperbolehkan berandai-andai dalam bentuk apapun. Hal tersebut akan membuat kita berangan-angan dan seringkali membuat kita lalai. Semoga sedikit coretan ini tidak membuat kita lalai. Semoga coretan ini dapat menambah daya kritis dan inovasi kita sehingga akan meningkatkan kesejahteraan kita bersama.

Coretan ini akan saya mulai dari pengalaman saya (keluh kesah saya) ketika menggunakan jasa trasportasi kereta api Bogor-Depok. Sebenarnya sudah lama sekali saya menggunakan jasa trasportasi ini, sejak tahun 2003 saya sudah menggunakan jasa kereta api ini. Karena dengannya, saya berhasil mendapatkan gelar sarjana di IPB.

Jumat, 1 April 2011. Ketika saya sudah 5 bulan tidak menggunakan jasa trasportasi ini, dan ingin sekali merasakan kembali. Namun, sore itu saya merasa kecewa sekali dengan pelayanan Jasa trasportasi ini. (padahal bukan rahasia umum, bahwa ketidaknyamanan sering kali hadir dalam jasa trasportasi ini). Entah apa dikarenakan saya lelah sekali atau memang emosi saya sedang tinggi, saya merasa perlu untuk menceloteh (mengkritik) tentang jasa trasportasi ini.

Kenapa ketidaknyamanan ini sering kali dan bahkan senantiasa berulang? sudah 8 tahun saya menggunakan jasa trasportasi ini namun tidak ada perbaikan yang sangat berarti? kenapa tidak …? kenapa tidak……? dan sebagainya?

Lontaran-lontaran pertanyaan itu dan kritik itu saya lemparkan di media sosial, dan lumayan dapat tanggapan juga. Mulai dengan gelitikan masalah kereta api ekonomi AC yang nyata-nyata diganti dengan kipas angin bukan AC, sehingga panas dalam kereta masih terasa.

Saya yakin, sudah banyak pergantian direktur dalam PT tersebut, namun sedikit kali direktur yang berani melakukan terobosan. Padahal, seperti yang pernah disampaikan oleh Prof BJ Habibi dan Prof Rhenald Kasali, bahwa Indonesia butuh Pemimpin-Pemimpin yang melakukan terobosan…. bukan pemimpin yang melakukan rutinitas…

Hal tersebutlah yang jarang diajarkan dalam kepemimpinan di Negeri ini, Pemimpin terlalu hati-hati dalam mengambil kebijakan sehingga sering kali terlihat lambat.

Departemen Perhubungan pun, entah menaruh di urutan ke berapa pelayanan prima terhadap masyarkat. Apakah diawal-awal visi atau diakhirkan, sehingga tidak ada fokus untuk senantiasa memperbaiki pelanyananya. Padahal, sebagaimana kita ketahui bahwa PT KAI Jabodetabek seperti memegang monopoli trasportasi kereta api tersebut. Sehingga sudah seharusnya menepatkan kepuasan dan kenyamanan dalam prioritas utama.

Pertanyaanya adalah, bagaimana meningkatkan kepuasan dan kenyamanan pelayanan? Sederhana saja, seperti yang dilakukan oleh sebuah perusahaan besar (saya lupa perusahaan apa). Dimana perusahaan tersebut mewajibkan dalam satu bulan pegawainya menuliskan usulan atau ide kepada perusahaan agar nilai perusahaan meningkat. Namun khusus buat PT KAI COMMUTER JABODETABEK ditambahkan juga dengan usulan para pengguna jasa tersebut. Dimana bisa dilakukan dengan menggunakan Kotak Ide atau dengan SMS Center, dimana di akhir bulan, direksi akan menilai dan mendiskusikan ide-ide terbaik bagi perusahaan dan bagi pengirimnya akan diberikan hadiah, sehingga akan meningkatakan semangat memberikan ide-ide terbaik.

Usulan tersebut, diolah, dikomunikasikan, dikoordinasikan kepada pihak-pihak yang terkait sehingga ada kolaborasi dalam peningkatan nilai perusahaan. Dan akhir output dari itu semua adalah kepuasan dan kenyamana seluruh stakeholder.

Salam Perubahan

Diskusi kami pun berlanjut, kali ini mencermati tentang kemacetan dan banjir yang ada di Kota Jakarta. Senang ataupun tidak senang dengan pernyataan tersebut tidak masalah, karena faktanya adalah seperti itu. Jakarta Macet, Jakarta Banjir.
Salah satu alternatif yang hadir dalam diskusi tersebut adalah pemindahan ibukota Indonesia (Jakarta) ke daerah lain.
Sungguh menarik apa yang dipaparkan oleh sahabat saya itu, dengan ekstreem, beliau menyatakan bahwa harga mati pemindahan ibukota untuk mengobati kemacetan. Memang cost nya amat besar, mulai dengan membangun infrastruktur secara lengkap hingga mobilisasi pegawai negeri sipil ke daerah baru, yang bukan hanya membawa pegawai itu saja tapi juga keluarganya.
Banyak keuntungan yang didapat dari pemindahan tersebut, mulai dari berkurangnya kemacetan yang akan berimbas pada berkurangnya konsumsi BBM, pemerataan ekonomi dan pembangunan, hingga pemerataan SDM dan pendidikan serta fasilitas-fasilitas lain.
Anggap saja, cost awal dijadikan sebuah investasi penghematan di masa yang akan datang dan bisa dimasukan sebagai alat pemerataan ekonomi dan pembangunannya.
Pertanyaannya sekarang adalah, seberapa kuat keinginan pemerintah untuk memutuskan atau minimal membuat penelitian terpadu terkait pemindahan Ibukata Negara.

Sebuah penggalan kata-kata yang menjadi judul diatas merupakan hasil sebuah diskusi dengan seorang rekan kuliah yang didapatkan dari profesornya. Setelah direnungi dengan seksama, ternyata penggalan kata-kata tersebut banyak benarnya juga. Atau jika boleh saya mengatakannya, “sangat tepat” untuk menggambarkan keadaan Negara kita tercinta. Ya, Negara yang sangat banyak sumber daya alamnya, namun tidak maksimal diolah. Sumber daya alam itu dengan enaknya kita jual secara mentah-mentah. Yang bukan hanya memberikan keuntungan kepada orang asing, namun juga membuat kita semakin bodah dan miskin.
Entah, entah kebijakan apa atau hal “sesuatu” apa, yang membuat kebijakan untuk memberikan dengan leluasa pengolahan sumber daya alam kita secara “bodoh” bisa diambil dan disepakati. Bukannya buruk sangka, namun sangat sulit sekali untuk dimengerti. Bahkan oleh anak SMP pun, dipastikan akan menolak kebijakan-kebijakan tersebut.
Pertanyaan selanjutnya adalah, apa yang harus kita lakukan sekarang, setelah mereka dengan sah menguasai sumber daya alam kita dan kita masih terbuai dengan kebodohan dan kemiskinan?
Jawaban yang mesti dan harus kita lakukan adalah, “sadar dan bangkit”. Pemuda-pemuda bahkan semua insan yang mengaku bagian dari Bangsa Indonesia harus sadar dengan keadaan ini, jangan tebuai oleh angan kosong dan penjajahan tersembunyi.
Bangkit, dengan cara berbuat semampu dan semaksimal mungkin dalam bidang apapun demi kejayaan Bangsa..

Salam Perubahan.

Akhir pekan ini, media massa baik cetak maupun elektronik penuh dengan berita resuffle kabinet Indonesia Bersatu Jilid II (KIB II). Apa yang tergambar dalam benak kita sebagai orang banyak? Issu perombakan kabinet tersebut lebih banyak ditiup oleh konflik dalam partai-partai koalisi kabinet SBY.

Evaluasi terhadap kinerja pemerintah atau lebih spesifiknya kinerja menteri yang notebone nya adalah pembantu presiden adalah sebuah kewajaran dan memang harus di lakukan secara berkala. Sehingga ada perbaikan dan motivasi kerja yang ada dalam kabinet tersebut. Sehingga kepuasan rakyat akan kinerja pemerintahan SBY dapat dicapai.

Namun,kali ini. Perombakan tersebut (akan) merupakan hasil pertikaian partai-partai koalisi. bukan karena evaluasi kinerja. Sehingga jika ada yang berkinerja baik namun karena partainya tidak dalam koalisi lagi, maka yang menjadi korban adalah rakyat. Rakyat menjadi korban pertikaian elit-elit politik.

Bukannya menambah kepuasan dan pelayanan terhadap rakyat, tapi malah melukai rakyat. Karena belum tentu, jika menteri yang baru yang diangkat akan berkinerja sama atau lebih baik. Dan lebih parah lagi, jika menteri baru tersebut malah rakus terhadap uang dan kekuasaan baru. sehingga akan mencaplok rakyat secara bulat-bulat. Karena saat ini, pasti yang mereka kejar adalah pencitraan sesaat untuk 2014.

Namun, kita lihat saja esok hari (5 Maret 2011). Apakah jadi perombakan kabinet karena kinerja atau karena emosi terhadap partai-partai koalisi.

Sekali lagi, perombakan kabinet untuk siapa? dan untuk kepentingan siapa?

 

Salam JRB

Salam Perubahan.

Hari ini, sungguh sebuah pengalaman yang sulit sekali untuk dilupakan. Baik, secara rekaman peristiwa maupun rekaman makna. Hari ini, merupakan salah sebuah momentum hidup yang tak hanya sulit dilupakan namun juga menjadi sebuah motivasi.

Hari ini, mendapatkan sebuah kisah hidup sang pejuang (minimal untuk saya). Ya, mungkin sosok beliau berharga dan penting buat saya… namun bisa jadi tidak disadari oleh orang lain.

Sanusi, tepatnya Bapak Sanusi Abdullah. Perkerjaan beliau adalah seorang tukang sapu jalan.. Berkerja, bukan hanya sekedar berkerja dengan menyapu jalan dan membersihkan jalan. Namun, beliau memaknai kerjanya dengan landasan ibadah. Sehingga semua berlandaskan ibadah dan hasilnya lebih baik…

Hari ini, sungguh sebuah pengalaman yang sulit sekali untuk dilupakan. Baik, secara rekaman peristiwa maupun rekaman makna. Hari ini, merupakan salah sebuah momentum hidup yang tak hanya sulit dilupakan namun juga menjadi sebuah motivasi.

Hari ini, mendapatkan sebuah kisah hidup sang pejuang (minimal untuk saya). Ya, mungkin sosok beliau berharga dan penting buat saya… namun bisa jadi tidak disadari oleh orang lain.

Sanusi, tepatnya Bapak Sanusi Abdullah. Perkerjaan beliau adalah seorang tukang sapu jalan.. Berkerja, bukan hanya sekedar berkerja dengan menyapu jalan dan membersihkan jalan. Namun, beliau memaknai kerjanya dengan landasan ibadah. Sehingga semua berlandaskan ibadah dan hasilnya lebih baik…

Ketika ditanya oleh seorang sahabat, terkait masa depan (perkiraan lebih masa depan tepatnya). Dengan yakin, satu hingga dua tahun lagi.. bangsa kita masih dikuasai oleh POLITIK dan UANG.

Dua hal tersebut yang akan menjadi pemegang kekuasaan di bangsa kita, jika para pemimpin saat ini tidak memiliki kemauan yang tegas dalam membongkar kasus-kasus yang akut dan memberikan hukuman yang pantas sehingga ada efek jera.

Dua hal tersebut yang akan tumbuh subur layaknya jamur di musim hujan, jika para ekonom dan politisi tidak bisa dibedakan.

Dua hal tesebut yang akan memenuhi layar televisi kita, jika para akademisi dan politisi tidak bisa dibedakan.

Dua hal tersebut yang akan memenuhi konflik di masyarakat, jika para pemuka agama berada di sebuah sisi saja (sekuler)

.:: Sepenuh Jiwa Untuk Kejayaan Alamamater dan Bangsa ::.

Salam Perubahan

Bingung dan sedikit terkejut dengan data APBD yang ditunjukan ke kami terkait dengan alokasi dana untuk kepemudaan. Sekitar 2-4% dari jumlah APBD yang dianggarkan, baik oleh Pemkot dan DPRDnya. Dari alokasi tersebut, kepemudaan jelas menjadi sesuatu hal yang sangat di kerdilkan dan tidak mendapatkan prioritas yang baik dan penting bagi pemkot dan DPRD. Kepemudaan menjadi sesuatu yang tidak ada artinya, baik sebagai kemajuan saat ini atau sebuah investasi di masa yang akan datang.

Pemuda, adalah sekelompok individu yang berusia 15-30/40 tahun (saya lupa dengan UU yang terbaru) yang sering kali digunakan sebagai wacana dan slogan saat-saat dimasa kritis dan butuh pencitraan. Wacana dan slogan pemuda digunakan saat-saat butuh pembaruan, misalkan saja saat reformasi dan kampanye (pemilu legistatif atau eksekutif). Pemuda sekali lagi hanya dijadikan sebuah alat pencapaian posisi atau jabatan.

Padahal sejatinya, menurut saya bahwa pemuda bukan saja dilihat dari umur saja, namun dilihat juga dari pikiran. Tentu saja buka pikiran yang kolot, bukan pikiran yang lama dan bukan pikiran yang terbiasa dengan zona kenyamanan. Namun pikiran-pikiran yang baru, pikiran yang berani dan pikiran yang menerobos dari kebiasaan untuk kebaikan bersama.

Dan itu semua tidak bisa didapatkan secara instan, namun perlu dibentuk. Namun sayang sekali, saat ini para orang tua sering kali membatasi para pemuda dengan alasan klasiknya.. karena mereka (orang tua) takut akan kenyamaan yang saat ini mereka nikmati. Pemuda harus bisa menerobos itu semua. Tentunya dengan dibekali ilmu yang cukup. Dan dapat dikatakan itu semua harus bisa memakai manajemen strategis yang baik agar bisa menerobos dan menggapai cita-cita bersama.

Bukan saatnya lagi pemuda diiming-iming oleh bahwa pemuda pemimpin masa depan, namun sudah saatnya menjadi pemimipin masa kini. Tentunya bukan usia yang menjadi parameter, tapi pemikiran.

Entah siapa yang berkata jujur tentnag keadaan ekonomi kita. Politisi yang satu atau politis yang satunya lagi. Yang menilai pemerintahan saat ini mempunyai raport yang bagus atau raport yang jelek.

Namun, kalau saja kita melihat realita yang terjadi di rakyat kebanyakan, mereka bukan melihat dari sisi pertumbuhan ekonomi saja… bahkan pertumbuhan ekonomi tersebut mereka kesampingkan. Lalu apa yang menjadi keresahan mereka saat ini? Yang menjadi keresahan mereka adalah ketika GAP KESEJAHTERAAN  itu semakin lebar dan dalam. Ketika PEREKONOMIAN hanya berpusat hanya pada segelintir orang saja, yang notabone mereka sudah terlalu kaya.

Itu lah yang menjadi keresahan masyarakat banyak, yang sewaktu-waktu akan meledak dan akan membuat ekonomi kita menjadi terpuruk kembali.

Lalu apa yang harus kita lakukan? secara sederhana yang harus kita lakukan adalah mencoba memerikasa diri kita sendiri. Sudah sejauh mana kita bermanfaat bagi lingkungan sekitar kita, khususnya bagi pemerataan perekonomian kita. Bagaimana perhitungan zakat dan shodakoh kita dapat menjadi solusi bagi kita semua. Bagaimana tenaga dan pikiran kita menjadi penggerak perekonomian kita.

Kalau saja kita hanya senang sendiri dan bahkan tidak menghiraukan orang lain. Maka tunggulah kehancuran ekonomi kita dan bangsa ini.

Salam Perubahan

.:: Sepenuh Jiwa Untuk Kejayaan Almamater dan Bangsa ::.

Mei 2012
S S R K J S M
« Mar    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031